Refleksi Akhir Tahun

Monday, 28 December 2009

0 comments
CATATAN SINGKAT TSI; SEBUAH REFLEKSI YANG PATUT DICAMKAN
(Refleksi Beberapa Event Nasional di Tahun 2009)
: Hudan Nur)*


KEGIATAN TEMU SASTRAWAN INDONESIA (TSI) yang berlangsung beberapa waktu lalu di Pangkalpinang, Bangka Belitung mengantungi banyak catatan bagi masing-masing peserta yang notabenenya sebagian besar adalah penulis. Ada banyak hal yang bisa dibawa pulang setelah perhelatan tersebut yang eksistensinya bagi sebagian kalangan yang ada di Indonesia masih abu-abu bahkan kurang diakui keberadaannya sebagai suatu ajang (pertemuan) yang sekaliber nasional. Betatapun kegiatan tersebut sudah tergolong berhasil dimana mendatangkan seratus limapuluhan peserta yang berasal dari penjuru tanah air dengan menghadirkan sejumlah pembicara dialog sastra antara lain: Agus R. Sarjono, Saut Situmorang, Yasraf Amir Piliang, Katrin Bandel, Zen Hae, Nenden Lilis Aisyah, Nurhayat Arif Permana, Radhar Panca Dahana, Zurmailis, John McGlynn, dsb. Pada TSI 2 kali ini meluncurkan dua antologi sastra yakni Pedas Lada Pasir Kuarsa (Puisi) dan Jalan Menikung Ke Bulit Timah (Cerpen), penerbitan antologi sastra semacam ini serupa dengan penerbitan di TSI 1 yang berlangsung tahun lalu di Propinsi Jambi.
Terlepas dari output kegiatan TSI 2 pada penulis generasi berikutnya, ada baiknya kita selaku pegiat sastra tahu bahwa kesusastraan Indonesia memang terfirkah-firkah adanya. Hal ini disebabkan berbagai kepentingan baik individu maupun kelompok, perbedaaan cara pandang, dan tingkat penempatan terhadap eksistensi diri selaku sastrawan yang eksklusif dan sangat berlebihan. Namun di luar itu semua perlu kita kembali kepada makna penulis dalam dunia kepenulisan yang sebenarnya. Penulis yang berhasil pastilah insan pengaruh, baik kepada individu tertentu maupun massa, eksplisit maupun insan. Penulis bahkan bisa melampaui zamannya, artinya pengaruh mereka melebihi ruang dan waktu setempat. Tulisan, ide, pemikiran, bisa menelusup dan mempengaruhi orang secara diam-diam, sampai akhirnya pemikiran itu mengendap dan menguat, menjadi sikap. Dengan pemikirannya, penulis menawarkan kesadaran tertentu, bahkan lewat sikap dan perbuatannya, penulis menawarkan nilai kepada banyak orang, terutama sekali pembaca dan peminat seni dan sastra. Entah pemikiran, sikap, cara pandang, dan perbuatan tersebut diterima atau ditolak masyarakat, itulah yang akan menjadi warisan budaya generasi berikutnya.
Tetapi hal tersebut nampaknya sudah dikesampingkan, dikalahkan oleh eksistensi para sastrawan dengan paham pemikiran yang beraneka pula. Sejak majalah sastra Indonesia; Horison diterbitkan dengan dua versi, sejak itu pulalah perbedaan menjamur di dunia sastra Indonesia, dampak yang sangat signifikan dapat dirasakan para pegiat sastra di daerah, terlebih yang kurang menyelami sejarah dan kebenaran dari dalam diri sastra itu sendiri. Parahnya lagi, sastra dijadikan ajang politik bagi elitenya dan pengkultusan diri lebih berkualitas dari yang lain menyebabkan jarak antar lintas generasi berikutnya yang seharusnya dibina justru terbinasakan karena satu dan lain hal. Sayangnya, bagi sebagian besar kalangan generasi muda tidak tahu benang merah akan kehadiran sastra Indonesia yang sebenarnya. Masih banyak diantara mereka yang tahunya hanya menulis saja (penulis yang lahir dari bakat alam) dan celakanya apa yang mereka tulis tanpa mengetahui kaidah dalam bersastra sehingga substansi dan eksotisitasnya terabaikan. Sebuah karya harus mengikuti tata aturan baku yang ada dan ini mutlak dalam berkarya, apapun jenisnya tak terkecuali dalam dunia sastra.
Berkaitan dengan kegiatan TSI 2 di Pangkalpinang, ada sejumlah kegiatan yang dibuat dalam rangka peningkatan kualitas khususnya pendatang baru di dunia sastra antara lain: Sastra Kepulauan, Ode Kampung, Aruh Sastra Kalimantan Selatan, Ubud Writers Award, Biennale Festival, dll. Khusus bagi Biennale Festival International, festival ini dikultus bagi internalnya sebagai temu sastrawan dalam dan luar negeri. Bagi yang pernah mengikutinya, maka dialah sastrawan Indonesia namun jika tidak diundang ataupun terlibat berarti bukan sastrawan dalam kacamata mereka. Hal ini kontan membuat lintas generasi berikutnya menjadi menjauh, belum lagi sejumlah media cetak yang memuat rubrik sastra dikelola oleh redaktur yang berpaham golongan. Inilah yang menjadikan keberagaman dalam citra penulisan, khususnya puisi sehingga eksploitasi kualitas terabaikan. Selera dan keberpihakan kepada golongan sangat mempengaruhi perjalanan sastra Indonesia yang didokumentasikan dalam bentuk cetakan karya di media Koran, majalah dan bulletin Indonesia.
Ini juga penyebab hampir gagalnya kegiatan TSI 2 di Pangkalpinang, adanya sinyalemen dari pihak tertentu yang menganggap TSI 2 bermuatan politik bahkan blokade pihak baru bagi kesusastraan Indonesia. Namun, TSI 2 tetap berjalan sesuai amanah TSI sebelumnya di Propinsi Jambi. Beruntunglah bagi penulis yang berasal dari daerah yang masih murni, tidak terjebak dalam kebermaknaan golongan yang berlapis-lapis. Eksotisitas alam dalam nuansa lokal adalah fentilasi utama dalam menelurkan maha karya abadi yang hanya bisa diangkat oleh putra daerah.

APA KABAR SASTRA DI PALU?
Ada baiknya kita juga membenahi diri menyoal sastra di Palu (khususnya) yang hanya memandang sastra (puisi, cerpen, dan esai) hanya sebatas pengumpulan karya sastra dengan kualitas yang perlu dipertanyakan. Mengingat kehidupan sastra di Kota Palu masih prematur dan tumbuh cacat dalam artian tidak normal dalam berkehidupan sastranya. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan kecacatan tersebut antara lain faktor media, kritikus sastra, dan ranah dalam fentilasi lokal. Faktor utama yang bisa memajukan sastra secara universal di Sulawesi Tengah adalah media. Sangat disayangkan, belum ada media yang memberikan keluasan bagi penulis dan masyarakat sastra untuk menuangkan (alihterasi) dari tradisi lisan ke karya sastra mutakhir.
Mudah-mudahan ada respon positif bagi masyarakat sastra dan media lokal dalam memajukan sastra di Kota Palu. Semoga! []




)* Ketua Divisi Sastra dan Tradisi Lisan
Yayasan Tadulakota’ Propinsi Sulawesi Tengah

Koin Cinta buat Prita

Wednesday, 16 December 2009

0 comments
Oleh: Miftahul A’la*

Jika kita amati dengan seksama, ada dua hal menarik yang terjadi di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir ini yang banyak menyedot dunia publik. Bahkan bisa dikatakan semua itu cukup menggelitik hati sekaligus mengiris-ngiris serta mencoreng nama besar Indonesia baik di mata rakyatnya sendiri maupun dunia Internasional. Kasusu yang pertama terkait dengan kasus bibit-candra yang sempat berlarut-larut akibat konflik dengan kapolri. Dan yang kedua terkait dengan kasus prita muliasari dengan RS Omni Internasional alam sutera tangerang yang hingga detik ini belum juga terselesaikan.
Kedua kasus ini memang tidak ada garis yang menghubungkan antara yang satu dengan yang lainnya. Karena keduanya merupakan kasus yang berbeda, yang satu disebabkan karena diduga penyalahgunaan wewenang dan satunya lantaran pencemaran nama baik. Namun yang membuat menarik adalah, kedua kasus yang sempat meldak di muka public ini sama-sama melibatkan hampir seluruh elemen masyarakat yang Indonesia. Jadi meskipun pada awalnya tidak ada garus kesinambungan, namun jika ditelusuri lebih jauh keduanya memiliki kesamaan yang sangat erat yakni sama-sama melibatkan rakyat.
Masih teringat tentunya dalam benak pikiran kita bagaimana kasus bibit-chandra diselesaikan. Meskipun meraka tidak terbukti bersalah tetap saja pihak polri ngotot untuk memenjarakannya. Dan terbukti dalam kondisi semacam ini rakyatlah yang mempunyai peluang terbesar untuk menegakan keadilan. Meskipun dengan susuh payah akhirnya lewat gerakan satu juta facebooker mendukung pembebasab bibit-chanda akhirnya teralisasi, meskipun masih menyimpan berbagai pertanyaan yang belum terjawab. Dan memang kekuatan rakyat yang bersatu tidak bisa dianggap remeh. Jangankan hanya aksi pembebasan bibit-chanda jika saja mau dengan persatuan yang digalang oleh rakyat Indonesia melakukan kudetapun saya yakin pasti akan bisa terwujud, tapi jangan sampai ini terjadi.
Sedangkan kasus yang dialami oleh prita muliasari juga tidak kalah hebohnya. Jika kasus bibit-chandra menggalang solidaritas dengan menggunakan lewat dunia maya dengan melakukan aksi sejuta aksi dukung bibit-chandra, maka berbeda dengan aksi solidaritas yang diberkan kepada prita. Selain aksi solidaritas di dunia maya, prita juga mendaat dukungan dengan aksi peduli “koin untuk prita”. Koin untuk prita ini dimaksudkan untuk meringankan beban prita yang diputus oleh pengadilan tinggi banten yang menjatuhi hukuman denda bagi prita sebesar 204 juta rupiah, tentu ini bukan merupakan jumlah yang sedikit terutama bagi seorang prta yang hanya merupakan ibu rumah tangga. Mekipun toh dengan seiring berjalannya waktu akhirnya gugatan perdata tentang denda uang sebesar 204 juta tersebut dicabut oleh pihak omni Internasinal.
Uniknya kedua kasus ini sama-sama memposisikan rakyat sebagai element utama dan terpenting. Dalam kasus ini penguasa hanya terkesan berpangku tangan tanpa memberikan solusi yang kongret dalam penyelesainnya. Dan ini tentu sangat ironi, karena dengan begitu pemerintah sudah memberikan keputusan yang bisa mematikan kariernya sendiri.
Simbol Perlawanan
Kenapa meski koin, begitulah kira-kira pertanyaan yang sering muncul dengan aksi solidaritas peduli prita, begitupula dengan saya ketika pertama kali mendengarnya. Kenapa tidak langsung saja membantu dengan berbentuk uang lembaran atau apa?
Secara material, memang koin yang dikumpulkan merupakan sesutu yang sangat remeh sekali, jika dikalkulasi dan dibandingkan dengan uang di Indonesia. Sebab koin merupakan mata uang terkecil dalam rupiah. Namun ternyata aksi solidaritas koin yang dipelopori dalam kasus prita ini ternyata pada akhirnya tidak main-main. Sebab hanya dengan rentang waktu yang relative singkat koin yang terkumpul sudah mencapai 10 ton dan nilainya lebih dari setengah milyar. Ini tentu merupakan kenyataan yang sangat fantastis. Tidak hanya berhenti sebatas itu sebab koin yang terkumpul ini masih tetap saja mengalir layaknya sumber mata air di pegunungan yang tidak akan pernah berhenti, meskipun aksi ini sudah di tutup. Bahkan koin peduli prita ini menyebar mulai dari sabang dari merauke, menyeluruh hampir di setiap penjuru Indonesia.
Disinilah sebenarnya jika kita cermati lebih jauh akan menemukan makna yang paling substansial. Jadi jika diamati ternyata koin yang dikumpulkan untuk aksi solidaritas prita ini bukan hanya semata-mata hal yang bersifat maretial saja, melainkan menyimpan makna yang luar biasa. Banyak orang yang menyatakan bahwa koin untuk prita ini merupakan satu simbol perlawanana yang coba untuk dilakukan oleh rakyat kecil terhadap rezim penguasan yang sudah dzolim terhadap rakyatnya. Bagaimana tidak, coba bayangkan saja masyarakatnya ditimpa berbagai musibah dan mendapatkan ketidakadilan dari hukum di Indonesia, penguasa hanya berdiam diri bahkan sengaja mengalihkan isu tersebut dengan isu-isu lainnya.
Dalam hal prita ini dapat kita saksikan dengan jelas bahwa penguasa hanya mementingkan segelintir orang yang berada di sekitarnya. Penguasa seperti kerbau yang di congkel hidungnya selalu mengikuti bagi mereka yang memberikan keuntungan. Bagi yang tidak memberikan keuntunga, ya nasibnya kurang lebih pasti akan seperti prita, tidak akan di dengar.
Dengan adanya kejadian yang menimpa Indonesia ini tentunya merupakan tamparan yang pedas bagi para penguasa. Rakyat sudah mulai tidak percaya lagi dengan apa yang dilakukan oleh penguasa, tidak mengherankan jika kemudian rakyat melakukan berbagai perlawan untuk melawan penguasa yang dzolim. Dan kejadian semacam ini harus dengan segera disikapi secepatnya. Jika penguasa tidak mampu untuk memperbaiki kinerja dan mengembalikan kepercayaan rakyat kecil terhadapanya, bukan tidak mungkin aksi yang lebih besar lagi akan segera dilakukan. Bahkan bukan tidak mungkin reformasi jilid ke dua akan benar-benar terjadi di Indonesia. Dan tentunya semua orang tidak menginginkan akan adanya reformasi jilid ke dua. Semuanya terserah dengan penguasa, apakah mau memperbaiki kinerjanya atu tetap mempertahankan kepemimpinannya yang boborok seperti sekarang. Jika pemerintah tidak mampu melakukan perubahan jangan salahkan kekuatan rakyat yang bergabung untuk menurunkan rezim penguasan yang dzolim secara paksa.


Penulis adalah Direktur pada Center for Politic and Law Studies (CePoLS) Yogyakarta. Hp. 081392627364

Memperingati hari jadi kota Blora ke 260

Sunday, 13 December 2009

0 comments
Menuju Blora Kota Sejahtere

Menuju Blora Kota Sejahtera

Oleh: Miftahul A’la*

Tanggal 11 desember merupakan hari yang sangat bersejarah dan sangat istimewa bagi masyarakat Blora. Bagaimana tidak, sebab pada hari ini dijadikan sebagai hari jadi kota blora. Dengan seiring berjalannya waktu, tidak terasa tahun ini blora sudah mencapai usia yang ke 260. Tentu usia yang bisa dikatakan sangat matang dalam membangun dan menembangkan wilayah blora. Baik dalam pengelolaan administrasi maupun berbagai aspek di dalamnya. Dengan rentang waktu yang demikian lama tidak berlebihan jika banyak yang beranggapan bahwa sudah semstinya blora menjadi kota yang sejahtera dan makmur. Terlebih dengan slogannya yang menyatakan “Blora Mustika” maju, unggul, sehat tertib, kontinyu serta aman. Sudah barang tentu blora akan menjadi kota yang makmur dan sejahtre.

Namun memang sayang, harapan tinggal harapan. Setiap orang berhak memiliki harapan setinggi langit, akan tetapi ironisnya semua harapan yang diinginkan oleh masyarakat blora khususnya dan Indonesia pada umumnya masih sangat jauh dari harapan bersama. Sudah sangat lama sekali masyarakat mendambakan kesejahteraan, namun selama itupula kemiskinan dan berbagai ketidakadilan dalam kehidupan selalu menemani. Tidak ada perubahan yang signifikan untuk memperbaharui dan memajukan kesejahteraan bersama. Blora masih tetap saja tidak mengalami kemajuan, kemiskinan masih merajalela, anggka pendidikan masih sangat minim, apalagi kesejahteraan masyarakatnya, masih jauh sekali dari kata kesejahteraa, telebih di daerah yang hanya mengandalkan pertanian hujan.

Potensi Besar

Sebenarnya jika dilihat dari berbagai aspek, blora merupakan wilayah yang cukup subur dan strategis untuk membangun dan menopang kesejahteraan masyarakatnya. Sebab di blora memang dikenal banyak sekali menyimpan berbagai potensi yang sangat besar, baik potensi alam maupun potensi yang lainnya. Coba lihat saja kawasan hutannya yang terhampar begitu luas hampir mengelilingi kawasan kota blora. Tentu kekayaan alam ini tidak bisa dianggap remeh. Bahkan menurut nenek moyang terdahulu, hutan di blora merupakan kawasan hutan terluas di Indonesia, dan tidak akan habis sampai tujuh keturunan, jika digunakan dan dipeliharan dengan seoptimal mungkin.

Potensi besar lainnya yang tersimpan di blora juga seperti limbah ternak sebagai biogas untuk bahan bakar. Karena berdasarkan catatan departemen humas, populasi ternak sapi di Blora saat ini mencapai 225.000 ekor. Populasi sapi di blora ini bahkan merupakan populasi tertinggi yang ada di wilayah Jawa Tengah. Dengan potensi yang demikian banyaknya tentunya akan sangat mendukung sekali program biogas yang selama ini coba untuk diperluas oleh pemerintah Indonesia. Dari populasi sapi sabanyak itu, akan terdapat ribuan ton limbah/kotoran ternak yang tersedia. Apabila limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai biogas, maka bisa dipastikan Blora akan memiliki energi besar, selain prosuksi kayu jati yang bersumber dari hutannya.

Belum lagi dengan dengan kawan blok-cepu dan sekitarnya yang menyimpan sumber minyak mentah terbesar. Karena memang tidak bisa dimungkiri puluhan sumur minyak tua di beberapa kecamatan di Blora yang terfukus di daerah blorabagian timur memiliki pesona tersendiri. Tidak berlebihan jika kemudian banyak sekali investor dari luar daerah berlomba-lomba mengincar. Mereka rela mengeluarkan bertriliyun-triliyun hanya untuk memenangkan tender sumur tua di blora. Bahkan konon, menurut seorang ahli perminyakan dari PPT Migas Cepu, banyak sumur minyak tua di Blora berpotensial dikelola. Namun saat ini ada kesan potensi sumur minyak tua itu disembunyikan. Barangkali karena berpotensi luar biasa, sehingga dalam pengelolaan disertai banyak kepentingan. Sehingga hingga sampai saat ini masih belum dimanfaatkan pemerintah daerah.

Dari sekian banyaknya sumur tua yang berpotensi menyimpan minyak terbesar di blora, memang sekarang sudah cukup mendapatkan perhatian baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Salah satu contohnya kawasan yang berada di daerah perbatasan cepu-bojonegoro. Di kawasan inilah tersimpan potensi yang sangat besar sekali, bahkan pemanfaatan kawasan ini disinyalir banyak ditunggani oleh kepentingan-kepengtingan person.

Menurut hemat saya, tidak ada salahnya jika potensi yang ada di kawasn tersebut dimanfaatkan dengan seoptimal mungkin. Dan tentu semua masyarakat blora akan menyetujui pemanfaatan kawasan minyak tersebut. Akan tetapi memang yang seringkali menjadi masalah adalah adanya kepentingan-kepentingan yang nantinya akan menggeser atau menghilangkan hak masyarakat setempat. Dan semua itu terjadi dalam pengelolaan kawasan cepu ini. Bahkan kawasan Blok Cepu yang dalam beberapa tahun terakhir banyak menyedot perhatian banyak orang. Bukan hanya masyarakat Indonesia saja yang memperebutkannya, bahkan investor asingpun turut andil bagian untuk mendapatkannya.

Dan pada tahun 2010 mendatang, proyek untuk pemanfaatan kawasan blok cepu ini akan segera dimulai dan difokuskan untuk pengeboran minyak yang ada didalamnya. Yang menggelisahkan banyak masyarakat adalah ternyata dalam pengelolaan sumur minyak tua itu, hampir semuanya didalangi oleh para investor dari luar. Alasannya cukup kuat untuk menolak investor asing, karena khawatir nanti Blora hanya diakali investor. Contohnya, bisa saja investor me-mark-up pembelian alat-alat sehingga dalam bagi hasil nanti warga Blora tinggal mendapatkan ampas. Artinya, sumur minyak tua yang dieksploitasi semuannya dibawa lari oleh pihak asing, sehingga tidak ada pemasukan yang jelas untuk pemerintah dalam jangka panjang untuk memakmurkan warga Blora. Dan itu sangat jelas sekali terjadi di blok cepu, karena hampir semua yang berhubungan dipegang oleh exson mobile yang merupakan investor dari amerika. Dan tentu ini akan menimbulkan persoalan baru.

Potensi-potensi semacam inilah sebenarnya yang harus dengan segera diperhatikan oleh pemerintah daerah. Mulai memelihara hutan, mengembangkan potensi bio gas dan peternaka serta mengoptimalkan kawasan yang menyimpan minyak mentah di blora. Karena tidak ada yang memungkiri bahwa berbagai potensi yang semaam inilah yang akan menjadi penopang utama dalam membangun kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat blora khususnya dan Indonesia pada umumnya. Jika semuanya dipergunakan seoptimal mungkin, kemungkinan besar kesejahteraan dan kemakmuran yang dinginkan oleh masyarakat blora khususnya dan Indonesia umumnya akan segera terwujud dengan segera. Jangan biarkan kekayaan yang kita miliki kembali dibawa lari oleh orang lain dan kita hanya berpangku diam saja.





Penulis adalah warga asli blora dan Direktur pada Center for Politic and Law Studies (CePoLS) Yogyakarta. Hp. 081392627364

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Page Rank

Copyright © 2011 Green Ilmu | Splashy Free Blogger Templates with Background Images, Trucks