Menggulingkan Pemerintahan SBY

Wednesday, 27 October 2010

0 comments

Suara Rakyat Kecil*

Wacana tentang penggulingan pemerintah SBY kembali menjadi isu hangat yang dalam beberapa hari terakhir banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan. Baik oleh kalangan politisi, birokrasi maupun rakyat kecil. Sebenarnya isu tentang penggulingan dari kekuasannya bukan merupakan isu yang baru. Sebab sangat terlihat jelas bahwa banyak oknum yang menginginkan turunya Sby dari puncak kekuasaannya. Entah itu orang yang benci dengan SBY atau hanya merupakan trik dari SBY agar banyak mendapatkan simpatisan dari rakyat Indonesia.

Akan tetapi wacana penggulingan SBY kali ini lumayan cukup menjadi pusat perhatian lantaran isu ini semakin menjadi perbincangan yang cukup menarik. Semakin santernya isu penggulingan SBY ini bermula dari pertemuan beberapa tokoh bangsa di kantor PP Muhammadiyah dan diskusi para aktivis muda di kantor PB NU, yang kedua-duanya di jakarta, lalu dilanjutkan dengan menyampaikan petisi 28 ke DPR.

Wacana untuk mengganti pemerintahan SBY sebelum 2014 ini pertama kali dilontarkan oleh Rizal Ramli dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh nasional pada Jumat (8/10) di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta. Alasan mengapa wacana ini mundul adalah sebab menurut Menko Perekonomian era Gus Dur itu menyebut pemerintahan SBY telah gagal dan karenanya dengan segera harus diganti.

Namun demikian, statemen tentang penggulingan kekuasaan SBY ini dibantah oleh Din Syamsudin selaku tuan rumah dalam pertemuan tersebut. Ia menerangkan bahwa dalam pertemuan dikantor PP Muhammadiyah itu tidak pernah membahas upaya untuk menggulingkan SBY, dan hasil diskusi aktivis muda dikantor PB NU juga tidak menyimpulkan bahwa SBY harus turun dari kursi kekuasaanya. Dalam pertemuan tersebut hanya disampaikan rasa kekecewaannya terhadap kinerja pemerintahan SBY.

Lalu, yang menjadi pertanyaan besar kemudian adalah dari manakah awal munculnya wacana tersebut? Apakah hanya sengaja dihembuskan sehingga dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuan tertentu, atau untuk mengalihkan isu yang lain. Ini menjadi pertanyaan yang cukup serius, meskipun semuanya serba mungkin dan memang inilah kenyataannya. Tidak heran jika kemudian bangsa indonesia hidup penuh dengan ketidak pastian isu yang berseliweran kian kemari. Sebab semuanya itu sengaja digulirkan baik oleh pemerintah maupun oknum yang memiliki kepentingan di dalamnya.

Cukup Rasional

Jika melihat berbagai realitas yang terajdi di lapangan sekarang ini semasa pemerintahan SBY jilid II, memang tidak salah jika kemudian muncul wacana untuk penggulingan kekuasaan. Wacana yang bergulir semacam ini tentunya cukup realistis dan sangat masuk akal. Sebab selama setahun Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden periode kedua, banyak sekali persoalan yang tidak kunjung diselesaikan. Bahkan rakyat selalu dibuat menderita dan selalu menjadi “tumbal” oleh kekuasaan. Tidak mengherankan jika kemudian rakyat yang terdholimi mulai murka dan memunculkan kelesak-kelesik akan menggulingkan pemerintah SBY.

Lihat saja kasus lumpur lapindo, bank centuri dan kasus bibit-candra yang terkesan berlarut-larut tanpa ada penyelesaian yang pasti. Tiga kasus tersebut hanya merupakan sebagian kecil yang bisa untuk membuktikan bahwa SBY telah gagal dalam menjalankan roda kepemerintahan. Bila dilihat secara lebih jauh tentunya banyak orang yang beranggapan bahwa memang peemrintahan SBY harus segera di akhiri sampai di sini. Hal ini tentunya dengan berbagai alasan dan berbagai pertimbangan, bahwa pemerintah telah gagal untuk menjalankan amat yang diberikan oleh rakyat.

Belum lagi berbagai kasus tentang kelaparan, kemiskinan, kesenjangan sosial dan beribu persoalan bangsa yang tidak pernah ada niatan baik untuk diselesaikan. Sederet kasus yang ada tidak mampu untuk diselesaikan. Bahkan dengan sengaja pemerintah seakan-akan sengaja menghilangkan kasus tersebut dengan mengoper isu lain untuk menghilangkan perhatian publik.

Penyelesaian yang Keliru

Para tokoh bangsa dan kaum muda bahkan semua rakyat indonesia tahu persis memang bahwa upaya untuk menurunkan kekuasaan dalam konteks ini SBY di tengah jalan sebelum masa habisnya seperti wacana sekarang ini jelas merupakan sesuatu yang tidak baik bagi bangsa ini. Selain tentunya ini akan menurunkan dan mempermalukan identitas bangsa di mata dunia internasional.

Ongkos yang harus dikeluarkan untuk melakukan aksi ini tentunya sangat mahal dan tak berimbang dengan hasil yang akan dicapai. Tidak sehat untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, rakyat yang hidup disebuah negara demokrasi harus menghormati konstitusinya, pemimpin harus diberi kesempatan sesuai mandat yang telah diberikan lewat pemilu. Oleh karena itu sesuai prosedur maka pergantian pemimpin dilakukan sesuai waktu yang sudah dijadwalkan.

Akan tetapi wacana semacam ini boleh jadi akan benar-benar menjadi keneyataan jika pemerintah SBY masih saja tidak mau memperbaiki kinerja pemerintahannya yang selalu menempatkan rakyat sebagai posisi yang selaku terdzolimi oleh penguasa. Sebab bukan tidak mungkin kemurkaan rakyat akan membuahkan tragedi yang sama dengan apa yang dilami oleh presiden Soeharto pada tahun 1998.

Penggulingan kekuasaan seperti tahun 1998 jelas merupakan langkah yang tepat pada masa itu. Akan tetapi jika keadaan semacam ini kembali terulang tentunya bisa dikatakan ini merupakanlangkah keliru yang akan kembali menjerumuskan bangsa indoesia menuju ketidakpastian dalam berbangsa-benrnegara. Bangsa ini tentu tidak menginginkan kejadian berdarah 1998 kembali terulang kembali. SBY harus segera tanggap untuk mendengarkan suara rakyat.

Kegagalan pemerintah dalam mengemban amanah rakyat yang terjadi cukup berhenti sampai disini, harus diakhiri dan jangan terjadi secara terus menerus. Penyalahgunaan kekuasaan harus segera diakhiri jangan sampai berlarut-larut. Rakyat sudah bosan dengan kemiskinan dan ketidak adilan yang semakin merajalela. Ingat suara rakyat merupakan sesuatu yang terpenting dalam sebauh negara. Jika pemerintah tidak memperdulikan akan aspirasi dan nasib rakyatnya, maka jangan kemudian menyelahkan rakyat yang murka dengan pemerintah.

Cara Memberi Musik Pada Blog

0 comments
mungkin semua blog beradu dalam bagus tidaknya postingan...tapi tau nggak salah satu yang bikin visitor blogmu betah berlama-lama di blogmu? Yupz...tambahkan alunan musik di blogmu agar pembaca rileks pas mbaca artikel blog yang dikau postig...he..he...



Caranya gampang banget. kamu tinggal kunjungi salah satu situs yang memberi fasilitas musik untuk blogmu, bahkan modelnya kayak winamp(ada playlistnya gituw...)keren gag??
nie webnya :


www.last.fm
www.deezer.com
www.imeem.com
Pilih aja salah satu yang menurutmu paling bagus dan cocok buat blogmu.

Untuk menampilkan di blog anda tinggal menambahkan pada menu widget HTML/SCRIPT dari menu layout. selamat mencoba...

Membangun Budaya Membaca

Monday, 11 October 2010

0 comments

Oleh: Miftahul A’la*
Dewasa ini, sadar maupun tidak membaca merupakan aktivitas yang sangat jarang sekali kita temui ditengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat seakan-akan sengaja melupakan akan peranan pentingnya membaca bagi masa depan bangsa-negara. Kebanyakan dari generasi bangsa terlena dengan keindahan dunianya masing-masing yang hanya bersifat kesenangan sesaat. Mereka terlenan dengan kemajuan teknologi dari negara lain yang kemudian kehilangan spirit untuk membaca. Padahal jika mau jujur, kita tahu dengan membaca maka akan mendapatkan manfaat yang luar biasa dampaknya baik bagi kehidupan sekarang maupun masa depan.
Dalam perjalanan perdaban dunia, fakta sejarah membuktikan bahwa bangsa yang maju dan mampu menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan serta teknologi (iptek) tidak terlepas dari kuatnya budaya membaca yang mereka lakukan. Sehingga mereka mampu untuk menciptakan sebuah peradaban baru yang lebih maju dari sebelumnya. Terlebih pada era globalisasi ini, dengan perekonomian dunia semakin terintegrasi dan perdagangan antarnegara kian liberal, tentunya membutuhkan berbagai strategi dan terobosan baru untuk menyiasatinya agar tidak terjerumus pada kesenangan yang hanya sesaat.
Jepang misalnya ia mampu bangkit dari kesuraman dan maju seperti sekarang tidak lepas dari budaya baca tulis. Bisa dikatakan, setelah kalah dalam Perang Dunia II, di jepang hanya tersisa beberapa gelintir orang. Semua bangunan yang ada hancur luluh lantak tak tersisa. Namun jepang tidak putus ada, dengan semangan optimisme ia segera bangkit dari kesedihannya. Guru-guru dan para cerdik cendekia dikumpulkan dan diperintahkan untuk menerbitkan buku-buku secara massal, termasuk terjemahan dari berbagai literatur dunia. Buku-buku yang diterbitkan meliputi sastra, ekonomi, politik, teknik, ilmu dasar, aplikasi teknologi hingga filsafat.
Usaha mengembangkan budaya baca tulis itu masih didukung dengan pengiriman sejumlah pemuda terpilih untuk belajar ke luar negeri -terutama AS dan Eropa- sesuai minatnya. Setelah lulus, mereka mengabdikan hasil pendidikannya untuk bangsa, antara lain dengan menulis buku. Maka, jadilah Jepang kini sebagai bangsa yang maju lantaran memiliki budaya baca tulis yang tinggi.
Sangat Minim
Namun sayang spirit untuk membaca belum mampu untuk diimplementasikan di Indonesia. Di Indonesia sangat minim sekali masyarakatnya yang mempunya hobi baca tulis. Alhasil, karena tidak mempunyai budaya baca tulis yang memadai, Indonesia sulit untuk maju seperti negara-negara lain. Indonesia tidak mampu bangkit dari keterpurukan begitu terkena krisis global. Bahkan krisis itu kini menjadi berkepanjangan dan multidimensi yang tidak terselesaikan. Penyebabnya, kurang lebih karena masyarkata Indonesia terutama pejabat-pejabat negara tidak memiliki budaya baca tulis. Sangat jarang sekali para pejabat negara yang mempunyai budaya baca-tulis, bahkan mereka yang memilki budaya baca tulis bisa dihitung dengan jari.
Data BPS 2006 menunjukkan, masyarakat Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5 persen dari total penduduk yang beratus-ratus juta jiwa. Sedangkan dengan menonton televisi sebanyak 85,9 persen dan mendengarkan radio sebesar 40,3 persen. Ini mengindikasikan bahwa memang masyarakat Indonesia belum mempunyai kesadaran akan pentingnya budaya baca-tulis. Padahal, tingginya minat membaca terkait erat dengan peradaban dan kecemerlangan suatu peradaban bangsa-negara. Semakin tinggi budaya baca, semakin maju pula bangsa tersebut, karena mampu untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Sedangkan masyarakat di negara-negara industri yang maju, mereka rata-rata membaca delapan jam per hari, sedangkan di negara berkembang, termasuk Indonesia, hanya dua jam setiap hari (UNESCO, 2005). Ini tentunya merupakan suatu ironi serta penghambat yang jelas akan kemajuan bangsa-negara. Karena dengan jumlah masyarakat yang mencapai 230 juta jiwa, hanya beberapa persen saja yang memiliki budaya membaca, itupun hanya sebatas untuk mengisi waktu luang belum merupakan kebutuhan pokok. Tidak mengherankan jika kemudian Indonesia hingga sudah 63 tahun lamanya merdeka belum mampu untuk membuat peradaban baru dan maju berkembang sesuai harapan faunding father bangsa. Alasannya sederhana minimnya budaya baca dan tulis masyarakat Indonesia.
Peran akan pentingnya budaya membacan ini bukan hanya diakui oleh negara-negara di dunia. Jauh sebelum peradaban dunia maju, islam sebagai agama terakhirpun telah menyerukan akan pentingnya budaya membaca untuk menciptakan sebuah tataran perubahan yang lebih maju. Bukti akan penyeruan islam akan petingnya budaya memcaba ini dapat kita lihat dari ayat Alquran yang pertama kali diturunkan Allah kepada Muhammad. Pertama kali ayat yang diturunkanpun berupa perintah untuk membaca (iqra) bacalah. Tentu ini bukan kebetulan, tetapi sunatullah bahwa kalau ingin maju dan hidup bahagia dunia-akhirat, kita harus menguasai dan menggunakan ilmu. Gerbang utamanya dengan membaca serta memahami ayat-ayat Allah, baik yang qauliyah (Alquran dan Hadis) maupun qauniyah berupa alam semesta beserta segenap isi dan dinamikanya.
Sebagai masyarakat Indonesia, kita tentunya berharap agar Indonesia mampu membangun generasi yang mandiri, cerdas, kreatif menjadikan Negara Indonesia sejajar diantara bangsa-bangsa di dunia tanpa harus menjadi budak dari negara lain. Belajar dari semua itulah, Indonesia harum mampu untuk menumbuhkan spirit yang kuat untuk menghidupkan budaya baca tulis terhadap seluruh element masyarakat tanpa terkecuali.
Menghidupkan dan membudayakan budaya membaca merupakan salah satu jalan keluar yang harus segera ditempuh oleh Indonesia jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang maju, makmur, serta bermartabat. Tidak ada pilihan lain, kecuali melakukan gerakan nasional secara cerdas, sistematis, dan kontinu untuk mencintai, menguasai, dan menerapkan budaya membaca di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Agar ketertinggalan yang dialami oleh Indonesia mampu untuk diatasi.




Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Page Rank

Copyright © 2011 Green Ilmu | Splashy Free Blogger Templates with Background Images, Trucks