Definisi Dasar Teori Organisasi

Monday, 8 November 2010

0 comments
A. Organisasi
Adalah kesatuan (entity) social yang dikoordinasikan secar sadar,dengan sebiah batasan yang relative dapat diidentifikasikan,yang atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
Perkataan dikoordinasikan dengan sadar mengandung pengertian manajemen. Kesatuan social berarti bahwa unit itu terdiri dari orang atau kelompokmorang yang berinteraksi satu sama lain.


B. Sruktur Organisasi
· Struktur Organisasi mempunyai 3 komponen :
a. Kompleksitas : mempertimbangkan tingkat diferensiasi yang ada dalam organisasi.
b. Formalisasi : tingkat sejauh mana sebuah organisasi menyandarkan dirinya pada peraturan dan prosedur untuk mengatur perilaku dari para pegawai.
c. Sentralisasi : mempertimbangkan dimana letak dari pusat pengambilan keputusan.
C. Arti Desain Organisasi
Mempertimbangkan konstruksi dan mengubah stuktur organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Mengkonstruksi dan mengubah sebuah organisasi sama seperti membangun atau memperbarui sebuah rumah.
D. Arti Teori Organisasi
Teori organisasi adalah Disiplin ilmu yang mempelajari struktur dan desain organisasi. Teori organisasi menunjuk aspek – aspek deskriptif maupun perspektif dari disiplin ilmu tersebut.


E. Perbandingan Teori Organisasi dengan Perilaku Organisasi.
1. Teori Organisasi : mengambil pandangan makro,unit-unit analisisnya adalah organisasi itu sendiri / sub-sub utamanya.
2. Perilaku Organisasi : mengambil pandangan mikro,memberi tekanan pada individu dan kelompok-kelompok kecil.
Perbedaan mikro makro menyebabkan tumpang tindih,missal factor-faktor structural mempunyai dampak terhadap perilaku pegawai.
F. Pentingnya Mempelajari Teori Organisasi
Organisasi adalah bentuk lembaga yang dominan dalam masyarakat kita.
Organisasi meresap dalam semua aspek kehidupan masyarakat.
Untuk mengejar karier manajemen.
Prasyarat meperoleh gelar à tidak akan member hasil.
G. Perspektif Sistem
1. Definisi Sistem : kumpulan bagian-bagian yang saling berhubungan dan saling bergantung,diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan kesatuan.
2. Jenis-jenis Sistem
Sistem terbuka karakteristik sistem terbuka
· Kepekaan tehadap lingkungan
· Umpan balik
· Cyclical character : system terbuka merupakan kejadian berputar.
· Negative Entropy : kemungkinan system hancur dan menghilang.
· Steafy State : masukan energy untuk menahan entropy
· Gerakan kearah pertumbuhan dan ekspansi
· Keseimbangan mempertahankan menyesuaikan aktivitas
· Equifinality : terdapat berbagai cara untuk mencapai tujuan
H. Daur Hidup ( Life Cycle )
1. Perspektif daur hidup : organisasi dilahirkan,tumbuh, dan akhirnya mati.
2. Definisi daur hidup : merujuk pada sebuah pola perubahan yang dapat diramalkan.
3. Tahapan daur hidup :
a. Tahapan kewirausahaan (enteprenurial)
b. Tahapan kebersamaan (collectivity)
c. Tahapan formalisasi dan control (formalization & control)
d. Tahapan perluasan struktur (elaboration of structure)
e. Tahapan kemunduran (decline)
I. Konsep Organisasi
Organisasi dikonsepkan dengan berbagai cara :
1. Kestuan rasional dalam mengejar tujuan
Organisasi adalah untuk mencapai tujuan, dan perilaku para anggota organisasi dapat dijelaskan sebagai pengejaran rasional terhadap tujuan tersebut.
2. Koalisi dari pendukung (constituencies)
Organisasi terdiri dari kelompok-kelompok yang masing-masing mencoba untuk memuaskan kepentingan sendiri.
3. Sistem terbuka
Organisasi adalah system transformasi masukan dan keluaran yang bergantung pada lingkungan untuk kelangsungan hidupnya.

4. Sistem yang memproduksi arti
Organisasi adalah kesatuan yang diciptakan secara artificial. Tujuannya dan maksudnya diciptakan secara simbiolis dan dipertahankan oleh manajemen.
5. Sistem yang digabungkan secara longgar
Organisasi terdiri dari unit-unit yang relatif berdiri sendiri dapat mengejar tujuan yang tidak sama atau bahkan saling bertentangan.
6. Sistem politik
Organisasi terdiri dari pendukung internal yang mencoba memperoleh control dalam proses pengambilan keputusan agar dapat memperbaiki posisi mereka.
7. Alat dominasi
Organisasi menempatkan para anggotanya ke dalam “kotak-kotak” pekerjaan yang menghambat apa yang dapat mereka lakukan dan individu yang dengannya mereka dapat berinteraksi. Selain itu, mereka diberi atasan yang mempunyai kekuasaan atas mereka.
8. Unit pemrosesan informasi
Organisasi menafsirkan lingkungannya,mengkoordinasikan aktivitas dan memudahkan pembutan keputusan dengan memproses informasi secara horisintal dan vertical melalui sebuah struktur hierarki.
9. Penjara psikis
Organisasi menghambat para anggota dengan menghambat uraian pekerjaan,departemen,dvisi, dan perilaku standar yang dapat diterima dan tidak dapat diterima.
10. Kontrak social
Organisasi terdiri dari sejumlah persatujuan yang tidak tertulis dimana para anggota melakukan perilaku tertentu dan untuk itu mereka menerima imbalan.

Menggulingkan Pemerintahan SBY

Wednesday, 27 October 2010

0 comments

Suara Rakyat Kecil*

Wacana tentang penggulingan pemerintah SBY kembali menjadi isu hangat yang dalam beberapa hari terakhir banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan. Baik oleh kalangan politisi, birokrasi maupun rakyat kecil. Sebenarnya isu tentang penggulingan dari kekuasannya bukan merupakan isu yang baru. Sebab sangat terlihat jelas bahwa banyak oknum yang menginginkan turunya Sby dari puncak kekuasaannya. Entah itu orang yang benci dengan SBY atau hanya merupakan trik dari SBY agar banyak mendapatkan simpatisan dari rakyat Indonesia.

Akan tetapi wacana penggulingan SBY kali ini lumayan cukup menjadi pusat perhatian lantaran isu ini semakin menjadi perbincangan yang cukup menarik. Semakin santernya isu penggulingan SBY ini bermula dari pertemuan beberapa tokoh bangsa di kantor PP Muhammadiyah dan diskusi para aktivis muda di kantor PB NU, yang kedua-duanya di jakarta, lalu dilanjutkan dengan menyampaikan petisi 28 ke DPR.

Wacana untuk mengganti pemerintahan SBY sebelum 2014 ini pertama kali dilontarkan oleh Rizal Ramli dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh nasional pada Jumat (8/10) di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta. Alasan mengapa wacana ini mundul adalah sebab menurut Menko Perekonomian era Gus Dur itu menyebut pemerintahan SBY telah gagal dan karenanya dengan segera harus diganti.

Namun demikian, statemen tentang penggulingan kekuasaan SBY ini dibantah oleh Din Syamsudin selaku tuan rumah dalam pertemuan tersebut. Ia menerangkan bahwa dalam pertemuan dikantor PP Muhammadiyah itu tidak pernah membahas upaya untuk menggulingkan SBY, dan hasil diskusi aktivis muda dikantor PB NU juga tidak menyimpulkan bahwa SBY harus turun dari kursi kekuasaanya. Dalam pertemuan tersebut hanya disampaikan rasa kekecewaannya terhadap kinerja pemerintahan SBY.

Lalu, yang menjadi pertanyaan besar kemudian adalah dari manakah awal munculnya wacana tersebut? Apakah hanya sengaja dihembuskan sehingga dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuan tertentu, atau untuk mengalihkan isu yang lain. Ini menjadi pertanyaan yang cukup serius, meskipun semuanya serba mungkin dan memang inilah kenyataannya. Tidak heran jika kemudian bangsa indonesia hidup penuh dengan ketidak pastian isu yang berseliweran kian kemari. Sebab semuanya itu sengaja digulirkan baik oleh pemerintah maupun oknum yang memiliki kepentingan di dalamnya.

Cukup Rasional

Jika melihat berbagai realitas yang terajdi di lapangan sekarang ini semasa pemerintahan SBY jilid II, memang tidak salah jika kemudian muncul wacana untuk penggulingan kekuasaan. Wacana yang bergulir semacam ini tentunya cukup realistis dan sangat masuk akal. Sebab selama setahun Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden periode kedua, banyak sekali persoalan yang tidak kunjung diselesaikan. Bahkan rakyat selalu dibuat menderita dan selalu menjadi “tumbal” oleh kekuasaan. Tidak mengherankan jika kemudian rakyat yang terdholimi mulai murka dan memunculkan kelesak-kelesik akan menggulingkan pemerintah SBY.

Lihat saja kasus lumpur lapindo, bank centuri dan kasus bibit-candra yang terkesan berlarut-larut tanpa ada penyelesaian yang pasti. Tiga kasus tersebut hanya merupakan sebagian kecil yang bisa untuk membuktikan bahwa SBY telah gagal dalam menjalankan roda kepemerintahan. Bila dilihat secara lebih jauh tentunya banyak orang yang beranggapan bahwa memang peemrintahan SBY harus segera di akhiri sampai di sini. Hal ini tentunya dengan berbagai alasan dan berbagai pertimbangan, bahwa pemerintah telah gagal untuk menjalankan amat yang diberikan oleh rakyat.

Belum lagi berbagai kasus tentang kelaparan, kemiskinan, kesenjangan sosial dan beribu persoalan bangsa yang tidak pernah ada niatan baik untuk diselesaikan. Sederet kasus yang ada tidak mampu untuk diselesaikan. Bahkan dengan sengaja pemerintah seakan-akan sengaja menghilangkan kasus tersebut dengan mengoper isu lain untuk menghilangkan perhatian publik.

Penyelesaian yang Keliru

Para tokoh bangsa dan kaum muda bahkan semua rakyat indonesia tahu persis memang bahwa upaya untuk menurunkan kekuasaan dalam konteks ini SBY di tengah jalan sebelum masa habisnya seperti wacana sekarang ini jelas merupakan sesuatu yang tidak baik bagi bangsa ini. Selain tentunya ini akan menurunkan dan mempermalukan identitas bangsa di mata dunia internasional.

Ongkos yang harus dikeluarkan untuk melakukan aksi ini tentunya sangat mahal dan tak berimbang dengan hasil yang akan dicapai. Tidak sehat untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, rakyat yang hidup disebuah negara demokrasi harus menghormati konstitusinya, pemimpin harus diberi kesempatan sesuai mandat yang telah diberikan lewat pemilu. Oleh karena itu sesuai prosedur maka pergantian pemimpin dilakukan sesuai waktu yang sudah dijadwalkan.

Akan tetapi wacana semacam ini boleh jadi akan benar-benar menjadi keneyataan jika pemerintah SBY masih saja tidak mau memperbaiki kinerja pemerintahannya yang selalu menempatkan rakyat sebagai posisi yang selaku terdzolimi oleh penguasa. Sebab bukan tidak mungkin kemurkaan rakyat akan membuahkan tragedi yang sama dengan apa yang dilami oleh presiden Soeharto pada tahun 1998.

Penggulingan kekuasaan seperti tahun 1998 jelas merupakan langkah yang tepat pada masa itu. Akan tetapi jika keadaan semacam ini kembali terulang tentunya bisa dikatakan ini merupakanlangkah keliru yang akan kembali menjerumuskan bangsa indoesia menuju ketidakpastian dalam berbangsa-benrnegara. Bangsa ini tentu tidak menginginkan kejadian berdarah 1998 kembali terulang kembali. SBY harus segera tanggap untuk mendengarkan suara rakyat.

Kegagalan pemerintah dalam mengemban amanah rakyat yang terjadi cukup berhenti sampai disini, harus diakhiri dan jangan terjadi secara terus menerus. Penyalahgunaan kekuasaan harus segera diakhiri jangan sampai berlarut-larut. Rakyat sudah bosan dengan kemiskinan dan ketidak adilan yang semakin merajalela. Ingat suara rakyat merupakan sesuatu yang terpenting dalam sebauh negara. Jika pemerintah tidak memperdulikan akan aspirasi dan nasib rakyatnya, maka jangan kemudian menyelahkan rakyat yang murka dengan pemerintah.

Cara Memberi Musik Pada Blog

0 comments
mungkin semua blog beradu dalam bagus tidaknya postingan...tapi tau nggak salah satu yang bikin visitor blogmu betah berlama-lama di blogmu? Yupz...tambahkan alunan musik di blogmu agar pembaca rileks pas mbaca artikel blog yang dikau postig...he..he...



Caranya gampang banget. kamu tinggal kunjungi salah satu situs yang memberi fasilitas musik untuk blogmu, bahkan modelnya kayak winamp(ada playlistnya gituw...)keren gag??
nie webnya :


www.last.fm
www.deezer.com
www.imeem.com
Pilih aja salah satu yang menurutmu paling bagus dan cocok buat blogmu.

Untuk menampilkan di blog anda tinggal menambahkan pada menu widget HTML/SCRIPT dari menu layout. selamat mencoba...

Membangun Budaya Membaca

Monday, 11 October 2010

0 comments

Oleh: Miftahul A’la*
Dewasa ini, sadar maupun tidak membaca merupakan aktivitas yang sangat jarang sekali kita temui ditengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat seakan-akan sengaja melupakan akan peranan pentingnya membaca bagi masa depan bangsa-negara. Kebanyakan dari generasi bangsa terlena dengan keindahan dunianya masing-masing yang hanya bersifat kesenangan sesaat. Mereka terlenan dengan kemajuan teknologi dari negara lain yang kemudian kehilangan spirit untuk membaca. Padahal jika mau jujur, kita tahu dengan membaca maka akan mendapatkan manfaat yang luar biasa dampaknya baik bagi kehidupan sekarang maupun masa depan.
Dalam perjalanan perdaban dunia, fakta sejarah membuktikan bahwa bangsa yang maju dan mampu menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan serta teknologi (iptek) tidak terlepas dari kuatnya budaya membaca yang mereka lakukan. Sehingga mereka mampu untuk menciptakan sebuah peradaban baru yang lebih maju dari sebelumnya. Terlebih pada era globalisasi ini, dengan perekonomian dunia semakin terintegrasi dan perdagangan antarnegara kian liberal, tentunya membutuhkan berbagai strategi dan terobosan baru untuk menyiasatinya agar tidak terjerumus pada kesenangan yang hanya sesaat.
Jepang misalnya ia mampu bangkit dari kesuraman dan maju seperti sekarang tidak lepas dari budaya baca tulis. Bisa dikatakan, setelah kalah dalam Perang Dunia II, di jepang hanya tersisa beberapa gelintir orang. Semua bangunan yang ada hancur luluh lantak tak tersisa. Namun jepang tidak putus ada, dengan semangan optimisme ia segera bangkit dari kesedihannya. Guru-guru dan para cerdik cendekia dikumpulkan dan diperintahkan untuk menerbitkan buku-buku secara massal, termasuk terjemahan dari berbagai literatur dunia. Buku-buku yang diterbitkan meliputi sastra, ekonomi, politik, teknik, ilmu dasar, aplikasi teknologi hingga filsafat.
Usaha mengembangkan budaya baca tulis itu masih didukung dengan pengiriman sejumlah pemuda terpilih untuk belajar ke luar negeri -terutama AS dan Eropa- sesuai minatnya. Setelah lulus, mereka mengabdikan hasil pendidikannya untuk bangsa, antara lain dengan menulis buku. Maka, jadilah Jepang kini sebagai bangsa yang maju lantaran memiliki budaya baca tulis yang tinggi.
Sangat Minim
Namun sayang spirit untuk membaca belum mampu untuk diimplementasikan di Indonesia. Di Indonesia sangat minim sekali masyarakatnya yang mempunya hobi baca tulis. Alhasil, karena tidak mempunyai budaya baca tulis yang memadai, Indonesia sulit untuk maju seperti negara-negara lain. Indonesia tidak mampu bangkit dari keterpurukan begitu terkena krisis global. Bahkan krisis itu kini menjadi berkepanjangan dan multidimensi yang tidak terselesaikan. Penyebabnya, kurang lebih karena masyarkata Indonesia terutama pejabat-pejabat negara tidak memiliki budaya baca tulis. Sangat jarang sekali para pejabat negara yang mempunyai budaya baca-tulis, bahkan mereka yang memilki budaya baca tulis bisa dihitung dengan jari.
Data BPS 2006 menunjukkan, masyarakat Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5 persen dari total penduduk yang beratus-ratus juta jiwa. Sedangkan dengan menonton televisi sebanyak 85,9 persen dan mendengarkan radio sebesar 40,3 persen. Ini mengindikasikan bahwa memang masyarakat Indonesia belum mempunyai kesadaran akan pentingnya budaya baca-tulis. Padahal, tingginya minat membaca terkait erat dengan peradaban dan kecemerlangan suatu peradaban bangsa-negara. Semakin tinggi budaya baca, semakin maju pula bangsa tersebut, karena mampu untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Sedangkan masyarakat di negara-negara industri yang maju, mereka rata-rata membaca delapan jam per hari, sedangkan di negara berkembang, termasuk Indonesia, hanya dua jam setiap hari (UNESCO, 2005). Ini tentunya merupakan suatu ironi serta penghambat yang jelas akan kemajuan bangsa-negara. Karena dengan jumlah masyarakat yang mencapai 230 juta jiwa, hanya beberapa persen saja yang memiliki budaya membaca, itupun hanya sebatas untuk mengisi waktu luang belum merupakan kebutuhan pokok. Tidak mengherankan jika kemudian Indonesia hingga sudah 63 tahun lamanya merdeka belum mampu untuk membuat peradaban baru dan maju berkembang sesuai harapan faunding father bangsa. Alasannya sederhana minimnya budaya baca dan tulis masyarakat Indonesia.
Peran akan pentingnya budaya membacan ini bukan hanya diakui oleh negara-negara di dunia. Jauh sebelum peradaban dunia maju, islam sebagai agama terakhirpun telah menyerukan akan pentingnya budaya membaca untuk menciptakan sebuah tataran perubahan yang lebih maju. Bukti akan penyeruan islam akan petingnya budaya memcaba ini dapat kita lihat dari ayat Alquran yang pertama kali diturunkan Allah kepada Muhammad. Pertama kali ayat yang diturunkanpun berupa perintah untuk membaca (iqra) bacalah. Tentu ini bukan kebetulan, tetapi sunatullah bahwa kalau ingin maju dan hidup bahagia dunia-akhirat, kita harus menguasai dan menggunakan ilmu. Gerbang utamanya dengan membaca serta memahami ayat-ayat Allah, baik yang qauliyah (Alquran dan Hadis) maupun qauniyah berupa alam semesta beserta segenap isi dan dinamikanya.
Sebagai masyarakat Indonesia, kita tentunya berharap agar Indonesia mampu membangun generasi yang mandiri, cerdas, kreatif menjadikan Negara Indonesia sejajar diantara bangsa-bangsa di dunia tanpa harus menjadi budak dari negara lain. Belajar dari semua itulah, Indonesia harum mampu untuk menumbuhkan spirit yang kuat untuk menghidupkan budaya baca tulis terhadap seluruh element masyarakat tanpa terkecuali.
Menghidupkan dan membudayakan budaya membaca merupakan salah satu jalan keluar yang harus segera ditempuh oleh Indonesia jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang maju, makmur, serta bermartabat. Tidak ada pilihan lain, kecuali melakukan gerakan nasional secara cerdas, sistematis, dan kontinu untuk mencintai, menguasai, dan menerapkan budaya membaca di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Agar ketertinggalan yang dialami oleh Indonesia mampu untuk diatasi.




GUMAM ALI SYAMSUDIN ARSI

Friday, 13 August 2010

0 comments












HAMIL EKSPERIMENTAL LAHIRKAN GUMAM ASA

(Ngoni so pe cara bakugumam. Lanjut Jo!)
: Hudan Nur)*



BILA rahasia menempati posisi penting dalam hasil sebuah karya maka jangan ‘paksakan’ untuk menjadi ‘harus jelas’. Begitulah kausalitas seorang Ali Syamsudin Arsi (ASA) dalam eksplorasi karya yang disebutnya sebagai gumam. Awalnya pada pertengahan 2008 yang lewat ASA memperlihatkan kepada saya hardcopy gumam-gumamnya tersebut. Kala itu saya dan beberapa teman yang lain belum memberi reaksi apapun. Hanya saja bagi saya, ASA merupakan seorang yang tidak memakai genre yang orang lain pakai. Barangkali baginya mencari jalannya sendiri itu lebih menjadi, ketimbang harus ikut dalam aliran tertentu.
Dari tiga buku kumpulan gumam; Negeri Benang pada Sekeping Papan (Januari 2009), TUBUH di Hutan-Hutan (Desember 2009), dan Istana Daun Retak (April 2010) dengan selang waktu penerbitan yang jaraknya tidak begitu lama. Ada beberapa hal yang menggelitik saya, selain substansi dan cara penyuguhan gumam ke pembacanya.
Pertama, dari empat belas hal yang ditulis ASA pada Istana Daun Retak; Alangkah Indahnya Rindu, Raja-raja Menikmati Istana, Anak-anak Turun Gunung, Seorang Perempuan Danau, “T”, Gumam Selain Gumam, Istana Daun Retak, Hujan Tipis-tipis, Menari Puisi-puisi, Gumam Dalam Tafsir Rindu, Cempaka, Istana Tanpa Hati, Dan Bencana Itu, dan Gumam Kepada Gumam, membuat pembaca sastra serius ikut mengerutkan kening karena mantra. Bahkan banyak yang terjebak dalam persoalan aturan simetri dalam sebuah keharusan sastra. Sebagai hasil cipta dan rasa, sastra lahir dari kekreatifitasan dan daya kontemplasi yang penuh. Dalam sastra tidak ada batasan harus begini, harus begitu, karena sastra bukan linguistik yang memiliki keterbatasan dan segenap aturan pengikat agar padu. Dari sinilah semuanya dimulai: Imajinasi liar dan kebebasan kreatifitas. Bahkan seorang ASA sekalipun, puluhan tahun yang lewat dia konak hingga klimaks. Jeda waktu yang tidak lama, ASA hamil dalam waktu yang cukup lama, bahkan bertahun-tahun. Dari kehamilan inilah, ia lahirkan anak-anak kandungnya yang disebutnya gumam.
Kedua, hasil hamil eksperimentalnya ASA tersebut menjadikan karyanya tidak prematur, berbeda dengan karya-karya generasi pembebek yang banyak dijumpai di media cetak dan dunia maya. ASA suguhnya gumam sebagai nuansa baru untuk warna kesusastraan Indonesia, yang pada substansinya tidak jauh berbeda dari yang ada. Kata gumam, lekat di indra dengar kita seperti ngedumel, ngoceh dan sebenarnya gumam hanyalah istilah untuk menyuarakan kegelisahan, sudut pandang ASA terhadap sesuatu apapun itu yang sempat terekam langsung dalam perjalanan hidupnya. Maka, pangkal persoalan yang demikianlah kenapa hamil eksperimental itu dilakoni ASA.
Ketiga, semiotika yang dicitrakan ASA bukan untuk dinikmati melainkan untuk direnungkan dan disikapi, karena gumam-gumam didedikasikan ASA untuk mengingatkan terhadap sesuatu. Seperti gumam asa yang berjudul Anak-anak Turun Gunung (IDH hal: 10-13) ;
...
Aroma daun sup di pinggir jalan, sebuah kampung menawarkan. Sepanjang jalan, kiri dan kanan, hamparan menghijau di halaman rumah, samping rumah, belakang rumah, bahkankalaupun juga dapat di dalam rumah dengan batas pagar dari rancangan sederhana dari bahan sederhanadengan mimpi terselipdi kedua belah bibir-bibir mungil yang sederhana. Bukan hanya sepi sekeliling. Kita dalam posisi terkepung oleh berbagai jenis ragam macam, padahal.
...
Anak-anak turun gunung. Anak-anak turun gunung. Bentuk nyata dari rasa kerinduan terhadap kelayakan hidup, tidak dalam mempertahankan wacana-wacana pembohongan, keculasan, sementara kemiskianan dianggap tidak pernah ada dalam setiap laporan, akh, perjalanan berjenis apa dan mau dibawa ke mana gemericik air sejuk bening ini akhirnya.

Keempat, produksi penerbitan buku-buku gumam ASA yang jaraknya tidak berselang lama membuat pribadi saya tercenung. Ada beberapa alasan yang barangkali bagi penulisnya telah hamil anak-anak kembar. Hingga dengan waktu yang hampir bersamaan melahirkan lagi gumam terhadap persoalan-persoalan, himpitan-himpitan serta nadir kulminasi seorang manusia khususnya di Kalimantan Selatan serta beberapa perjalanan yang direkamnya dalam memori adanya. Atau barangkali mantra gumam memang dibuat penulisnya sedemikian rupa, tanpa jeda dan bertubi-tubi. Bahkan kabar terakhir yang saya dengar, ASA telah menyempurkan buku gumamnya yang keempat dan sudah siap terbit.
Kelima, pada akhirnya saya harus mengakui tanpa mengurangi nilai substansi dari gumam ASA itu sendiri, nilai estetik masih terlihat kendati penulisnya buat untuk terlihat dan terkesan kacau, tidak beraturan tetapi keanggunan gumam biasnya dapat dipantulkan lewat kaca makna yang tabirnya tidak ditutupi apapun. Tema yang lugas dikemas dengan nuansa gumam membuat karya ASA patut untuk dicermati, dan dalam bagaimanapun gumam adalah bagian dari puisi yang lahir dari kehamilan eksperimental penulisnya. Ngoni so pe cara bakugumam. Lanjut Jo!






Sebelah Barat Papua, Juli 2010
)* Anggota Wanita Penulis Indonesia

Privacy Policy

Thursday, 1 July 2010

0 comments
Privacy Policy for http://greenilmu.blogspot.com/

If you require any more information or have any questions about our privacy policy, please feel free to contact us by email at gufron.sidiq55@gmail.com.

At http://greenilmu.blogspot.com/, the privacy of our visitors is of extreme importance to us. This privacy policy document outlines the types of personal information is received and collected by http://greenilmu.blogspot.com/ and how it is used.

Log Files
Like many other Web sites, http://greenilmu.blogspot.com/ makes use of log files. The information inside the log files includes internet protocol ( IP ) addresses, type of browser, Internet Service Provider ( ISP ), date/time stamp, referring/exit pages, and number of clicks to analyze trends, administer the site, track user’s movement around the site, and gather demographic information. IP addresses, and other such information are not linked to any information that is personally identifiable.

Cookies and Web Beacons
http://greenilmu.blogspot.com/ does use cookies to store information about visitors preferences, record user-specific information on which pages the user access or visit, customize Web page content based on visitors browser type or other information that the visitor sends via their browser.

DoubleClick DART Cookie
.:: Google, as a third party vendor, uses cookies to serve ads on http://greenilmu.blogspot.com/.
.:: Google's use of the DART cookie enables it to serve ads to users based on their visit to http://greenilmu.blogspot.com/ and other sites on the Internet.
.:: Users may opt out of the use of the DART cookie by visiting the Google ad and content network privacy policy at the following URL - http://www.google.com/privacy_ads.html

Some of our advertising partners may use cookies and web beacons on our site. Our advertising partners include ....
Google Adsense


These third-party ad servers or ad networks use technology to the advertisements and links that appear on http://greenilmu.blogspot.com/ send directly to your browsers. They automatically receive your IP address when this occurs. Other technologies ( such as cookies, JavaScript, or Web Beacons ) may also be used by the third-party ad networks to measure the effectiveness of their advertisements and / or to personalize the advertising content that you see.

http://greenilmu.blogspot.com/ has no access to or control over these cookies that are used by third-party advertisers.

You should consult the respective privacy policies of these third-party ad servers for more detailed information on their practices as well as for instructions about how to opt-out of certain practices. http://greenilmu.blogspot.com/'s privacy policy does not apply to, and we cannot control the activities of, such other advertisers or web sites.

If you wish to disable cookies, you may do so through your individual browser options. More detailed information about cookie management with specific web browsers can be found at the browsers' respective websites.

Eksploitasi: Sebuah Bagian Ekspresi

Sunday, 30 May 2010

0 comments
DINAMIKA kebudayaan hadir dalam perjalanan proses kebudayaan-kesenian (sastra) dirasakan telah sampai pada titik jenuh, lemahnya pengelolaan (kebijakan) atas keberagaman seni-budaya yang ada oleh negara/daerah membawa dampak terkoyaknya persatuan dan kesatuan bangsa, berbagai konflik sosial yang terjadi hampir diseluruh wilayah di Indonesia ditambah krisis identitas yang dirasakan semakin memudar serta minimnya pengelolaan kekayaan budaya yang kasat mata (tangible) dan tidak kasat mata (intangible) dan berbagai masalah mendasar lainnya yang kian memberi dampak akan rapuhnya pemahaman, kesadaran, apresiasi kita atas kekayaan keragaman seni-budaya.
Untuk mencapai sebuah hasil yang diinginkan, pengawalan terhadap pola pengembangan dan adanya kesepahaman bersama dimana kebudayaan juga harus menjadi salah satu prioritas utama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara karena kebudayaan – kesenian; merupakan sebuah jalan yang akhirnya akan memberikan gambaran bahwa begitu beragamnya kondisi yang ada dimasyarakat menunjukan identitas kita dalam pembangunan karakter bangsa.
Bila dirunut ke belakang, kebudayaan juga erat dengan kehadiran sastra sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan. Sebab kebudayaan yang maju (berkembang) dapat dilihat dari penghargaan masyarakatnya terhadap sastra itu sendiri. Kebudayaan dan sastra adalah hal yang sangat kompleks sehingga cukup sulit untuk bisa diejawantahkan dalam kehidupan. Padahal ini adalah fondasi untuk menjadikan manusia seutuhnya. Ada tiga hal yang bisa menjadikan manusia sebagai insan mulia yakni: agama, etika dan sastra. Apabila ketiga hal ini sudah dimiliki seorang manusia, maka mulialah ia dimata manusia yang lain maupun pencipta kita. Tetapi bila kita tengok ke kenyataan yang ada, justru berkebalikan. Budaya dan sastra menjadi ikon yang dipandang sebelah mata, apalagi bagi kalangan elite, pejabat dan instansi pemerintahan.
Di sisi lain, ketika hal ini disikapi oleh simpatisan budaya dan sastra malah beberapa instansi terkait bersikap apatis. Sangat disayangkan instansi kebudayaan dan pendidikan tidak mau melibatkan personnya ke ranah ini. Padahal notabenenya adalah instansi pelindung dan bertanggungjawab untuk menaungi segenap apapun yang mengusung unsur budaya (sastra). Di dalam tubuh budaya terkandung nilai sastra untuk memanusiakan manusia. Di dalam sastra ada tanggungjawab moral untuk melindungi manusia dari kebobrokan, ada filteralisasi yang tidak langsung menjadi tameng manusia dalam berkehidupan. Namun dalam kurun waktu terakhir ini, banyak lahir seniman-seniman birokrat yang ‘katanya’ peduli dengan keberlangsungan seni – budaya.
Kalimantan Selatan merupakan kawasan yang egaliter, tidak hanya etnis Dayak dan Banjar tetapi hampir seluruh etnis dan subetnis suku yang ada di tanah air. Ini menunjukkan adanya akulturasi yang implisit terbangun dalam proses berkehidupan. Sehingga corak budayanya pun (agak) sedikit mengalami adopsi dan adaptasi mengikuti perjalanan budaya yang sama-sama bergulir seiring masa. Oleh karenanya, tidak menutup kemungkinan bila kelak budaya sebelumnya berubah menjadi budaya campuran yang statusnya mengalami klamisasi dalam periodik tertentu. Sebagai contoh adalah budaya Gong, awalnya budaya ini merupakan sarana penyiaran agama Islam ke seluruh penjuru dunia tak terkecuali Kalimantan Selatan. Lambat-laun telah menjadi tradisi turun-temurun yang membudaya di setiap daerah yang notabenenya beragama Islam dan sebagai faktanya di tempat kita mengenal tradisi Wayang Gong. Sebuah pertautan silang antara budaya Hindu dan Islam, suatu nuansa – cikal bakal salah satu kesenian Banjar.
Seiring klamisasi tersebut kultur asli yang dianut masing-masing etnis juga mengalami pergolakan dan pergeseran budaya. Karakter kebudayaan memburam dalam situasi kehidupan yang nilainya melebur dalam menghargai budaya-budaya terbuka. Berbeda dengan situasi kultur yang tertutup, budayanya mampu bertahan tanpa tergerus arus egalisasi. Bukankah suatu kebudayaan akan ada dan tidak tergantung pelaku budayanya itu sendiri? Di sinilah sebenarnya kulminasi gerusan corak dalam berbudaya. Seniman yang sejatinya berbuat untuk keberlangsungan sebuah kebudayaan, juga dapat merusak dan menghancurkan nilai-nilai dalam budaya itu sendiri tak terkecuali. Belakangan ini terbukti dengan kehadiran seniman birokrat di daerah kita.

Lantas bagaimana bila eksploitasi dimaknakan ekspresi?
Berapa banyak lagi seniman dua puluh empat karat yang tersisa di Bumi Lambung Mangkurat ini? Kita semua angkat bahu, karena tahu perjuangan murni memerlukan pengorbanan dan tempaan yang luar biasa perihnya. Disamping itu juga memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Berbeda dengan seniman birokrat yang tiba-tiba saja nyeni karena faktor jabatan dan kedudukan di suatu instansi. Inilah sebenarnya racun kebudayaan yang mengaburkan citra budayanya sendiri. Sebab, pada dasarnya mereka tidak memiliki kecakapan dan ilmu seni – budaya yang utuh. Sehingga pemahamannya terfirkah dan setengah-setengah. Dan sangat disayangkan mereka melakukan eksploitasi terhadap seniman-seniman yang secara ekonomi memerlukan bantuan untuk bisa bertahan.
Celakanya para seniman dengan sukarela dieksploitasi oleh seniman birokrat. Tidak hanya itu, penyasastranya pun demikian. Ini fatal! Sebab warna seni – budaya menjadi kabur karena kepentingan pihak tertentu. Seyogianya, semua kegiatan pemerintah yang berhubungan dengan seni – budaya maka wajib hukumnya: penggerak, pelaksana, maupun penggagas menu seninya adalah pelaku seni (murni) itu sendiri! Ini tidak bisa ditawar lagi, karena memang merekalah yang tahu betul nadir kebudayaan, baik yang berskala regional maupun nasional. Tapi apakah hal ini juga berlaku di daerah kita?
Nilai kebudayaan tidak lagi berada dalam koridor yang pas. Ajang yang bermuatan seni – budaya – sastra kini sudah ditunggangi kepentingan-kepentingan kalangan tertentu. Bila eksploitasi dimaknakan ekspresi maka paham kebablasan ini telah salah kaprah. Perlu koreksi diri dulu kalau mau dikatakan seniman – budayawan – sastrawan yang benar. Dan tentunya perlu menghentikan eksploitasi terhadap seniman!
Mari kita berekspresi dalam kita!*
free counters

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Page Rank

Copyright © 2011 Green Ilmu | Splashy Free Blogger Templates with Background Images, Trucks