Feature of language

Monday, 31 January 2011

0 comments
Feature of language

Bahasa adalah alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Dalam kehidupan manusia, bahasa sangat penting peranannya. Kaitannya dengan bahasa, pada topik bahasan kali ini akan membahas tentang hakikat bahasa ditinjau dari teori ilmu bahasa. Berdasarkan teorinya, ada empat teori tentang hakikat bahasa:

- Language is arbitrary
- language is social phenomenon
- language is dynamic
- language produce sound

Perbedaan Bahasa Bukan Berarti Bahasa itu Rusak

Dalam perkembangannya, bahasa itu selalu berubah – ubah, maka dari itu bahasa disebut dinamis. Bahasa tidak selalu berada pada pola yang sama berdasar tatanannya, meskipun ada beberapa ilmu tentang susunan atau tata bahasa. Perubahan bahasa yang dimaksud diatas adalah berubahnya tatanan bahasa pada penggunaannya sehari-hari, misalnya pada kalimat “anda akan pergi kemana?”, bentuk tata bahasa tersebut benar berdasarkan tata bahasa yang baik, namun ketika kalimat tersebut diubah menjadi “mana kamu?”, bukan berarti bahasa tersebut menjadi ruasak. Perbedaan tersebut terjadi berdasar pada teori hakikat bahasa, yaitu languae is arbitrary and language is dynamic dimana penggunaan bahasa tidak harus sesuai dengan pola yang benar demi maksud tertentu. Pada bahasa inggris juga terjadi hal yang sama yaitu pada penggunaan kalimat
“I will go there” dan “there, I will go”, kedua kalimat tersebut adalah benar berdasarkan arti dan maksudnya. Berarti sama namun pola yang digunakan berbeda. Jadi, pola penggunaan bahasa yang berbeda bukan berarti bahasa tersebut menjadi rusak, namun hanya dikemas “berbeda”.

Bahasa Diciptakan Sama

Pada pembahasan diatas disebutkan bahwa perbedaan bahasa bukan berarti bahasa itu rusak namun hanya disajikan berbeda demi kepentingan tertentu. Misalnya pada kalangan anak muda, pola bahasa yang benar atau yang disebut EYD (ejaan yang disempurnakan) dirasa kurang enak diucapkan dan didengar, jadi kebanyakan kalangan muda lebih suka mengurangi bagian-bagian kata agar menjadi lebih singkat; “kamu mau pergi kemana?” diringkas menjadi “mau kemana kamu?”. Kedua contoh kalimat tersebut berbeda menurut ejaannya, namun arti dan makna yang dimaksud sama, yaitu menanyakan tujuan kepergian seseorang. Itulah mengapa disebut “language is created equal”.

Kedua sistem bahasa diatas berarti bahwa tata bahasa tidah harus mengikuti tata bahasa yang baik dan benar pada penggunaannya sehari-hari. Pada waktu tertentu bahasa disajikan lebih santai sehingga bisa membawa suasana lebih nyaman walaupun tidak sesuai dengan aturan dan tata bahasa yang benar. Hal yang terpenting dari bahasa adalah makna dan maksud dapat tersampaikan dan dimengerti dengan baik oleh kedua belah pihak.

Contoh lamaran: (ditulis dengan tangan sendiri

Saturday, 29 January 2011

0 comments
Contoh lamaran: (ditulis dengan tangan sendiri)



Kepada
Yth. .............
[Satuan kerja yang dilamar]

Dengan hormat,

Yang bertanda tangan di bawah ini :

N a m a                          :
Tempat dan tanggal lahir :
Agama                           : Islam
Kewarganegaraan          : Indonesia
Pendidikan terakhir        : S1
Alamat :
Nomor Telp / HP          : .......................................
(yang dapat dihubungi)

Dengan ini mengajukan permohonan untuk dapat mengikuti ujian Calon Pegawai Negeri Sipil Kementerian Agama jenis ketenagaan [jenis ketenagaan yang dipilih]
Sebagai bahan pertimbangan kami lampirkan :
1. Foto copy sah ijazah yang telah dilegalisir.
2. Pas photo ukuran 4 x 6 cm sebanyak dua lembar.
3. Foto copy KTP yang masih berlaku.
Demikian permohonan ini dibuat dengan sebenarnya dan apabila dikemudian hari ternyata data yang kami sampaikan tidak benar, maka kami siap untuk dituntut di muka pengadilan.

Atas perhatian dan perkenan Bapak kami sampaikan terima kasih.


...................., ......... 2010
Ttd

( Pelamar )

ISLAM ADALAH CARA HIDUP

0 comments
ISLAM ADALAH CARA HIDUP

Dari kajian tentang agama tadi kita dapat menyimpulkan bahawa Islam bukanlah sekadar agama yang membangun spiritual sesuatu masyrakat, Islam tidak cukup dengan menjalankan solat lima waktu, puasa, zakat dan Haji. Pandangan yang sempit terhadap Islam adalah hasil sekularisasi, dengan tidak disedari telah merasuk kedalam pemikiran ummat Islam.

Lebih daripada itu Islam adalah cara hidup. Agama Islam memberi jawapan kepada pertanyaan abadi kehidupan pertanyaan tersebut adalah darimanakah asal-usul manusia? Kemanakah mereka akan pergi dan apakah arti kehidupan ini?. Dari mula lagi Islam telah memberikan jawapan kepada persoalan tersebut dengan jelas. Bahkan menyediakan jalan bagaimana manusia harus hidup agar mereka tidak sia-sia dan sesat dengan menerangkan bahwa satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan menuju kearah jalan yang lurus.

Selain mambangun insan yang bermoral Islam juga membangun tamadun yang luhur, Islam tidak sepatutnya dipisahkan dari politik dan kemasyarakatan. Manusia sebagai khalifah berfungsi untuk memastikan hukum Syari’at Allah berlaku di bumi ini. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa nabi sendiri membangun sebuah negara dan mengatur sistem kemasyarakatan (sosial order). Bahkan sebenarnya Islam tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya tanpa tegaknya negara Islam yang bertanggungjawab melaksanakan Syari’at Allah.

Konsep Ibadah dalam Islam jauh lebih luas daripada apa yang dinamakan sembahyang dalam sesuatu agama. Worship atau sembahyang tidak dapat disamakan dengan ibadah. Ibadah seperti mana yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah adalah istilah yang merangkumi segala perbuatan yang disenangi dan diridhai Allah S.W.T. Oleh kerananya ibadah itu dapat terlaksana dengan mematuhi segala apa yang diperintahkan Allah. Dengan kata lain Ibadah merupakan gambaran yang menyeluruh daripada agama (ad-din).

Oleh karena itu kehidupan di dunia ini tidak lepas dari segala aturan dan agama. Agama sebagai pedoman hidup dan agar tetap di jalan yang di ridhai oleh allah. Allah akan membantu setiap orang yang berada di jalannya,jika seseorang tidak menjalankan perintah allah dan allah tidak meridhainya niscaya dia tidak akan merasa tenang.

Metabolisme Tubuh Selama Berpuasa

Friday, 28 January 2011

0 comments

Metabolisme Tubuh Selama Berpuasa

Tidak seperti tumbuhan yang dapat berfotosintesis, manusia tidak mempunyai kemampuan mengolah energi langsung dari alam, seperti matahari, sehingga energi untuk hidup diperoleh dari bahan makanan. Bahan makanan diolah menjadi energi untuk sel-sel tubuh dalam mempertahankan kondisi fisiologis kerja organ tubuh seperti jantung yang memompa darah, otak/saraf yang mengorganisasi/mengoordinasikan semua fungsi organ, paru-paru, ginjal, hati, indera, saluran pencernaan dll. dengan fungsi masing-masing.
Selain itu, energi dari makanan juga dimanfaatkan oleh otot-otot supaya dapat bekerja/beraktivitas ataupun digunakan untuk sintesis berbagai senyawa penting yang digunakan untuk membangun, mengatur, meregenerasi ataupun menyusun sel tubuh.
Sel-sel tubuh manusia dapat memperoleh energi dari glukosa, asam lemak bebas, triasil gliserol, dan asam amino yang tersedia di plasma darah atau dari bahan yang tersimpan dalam jaringan-jaringan tubuh sebagai cadangan energi berupa glikogen (otot dan hati), lemak (jaringan adiposa di bawah kulit), dan protein (otot). Total energi yang dapat diperoleh seseorang dengan berat badan 70 kg, baik dari plasma darah (113 kilokalori) maupun jaringan tubuh (166.740 kilokalori), sebenarnya dapat menyuplai kebutuhan selama satu sampai tiga bulan, tergantung aktivitasnya.

Bagi pekerja berat, energi yang dibutuhkan dalam sehari tidak lebih dari 6.000 kilokalori sehingga cadangan energi lebih 165.000 kilokalori bisa digunakan bertahan hidup selama lebih dari satu bulan tanpa mengonsumsi makanan sama sekali.
Berpantang makan dan minum dalam puasa (fasting, bukan starvation) bagi seorang Muslim mempunyai rentang waktu antara 12-18 jam. Rentang waktu itu terbagi menjadi fase penyerapan makanan (fed state) dan pascapenyerapan (fasting state). Setelah sahur (fase penyerapan), makanan yang kita makan dalam bentuk molekul kompleks seperti karbohidrat polisakarida, protein, dan lemak akan didigesti di saluran cerna menjadi molekul sederhana seperti glukosa, asam amino, asam lemak, dan gliserol.
Molekul sederhana ini akan diabsorbsi (diserap) dan ditranspor dari usus ke hati. Selanjutnya dimetabolisme di hati dan dibawa ke jantung untuk didistribusikan ke seluruh sel tubuh melalui aliran darah dan dimanfaatkan sebagai sumber energi dan bahan baku untuk sintesis makromolekul yang dibutuhkan.

Absorbsi makanan ini berlangsung antara tiga sampai enam jam, tergantung jumlah dan kandungan makanan yang dikonsumsi saat sahur. Bersahur dengan jenis makanan yang kompleks (polisakarida) dan berenergi tinggi dari sumber karbohidrat (nasi, roti, madu) serta banyak mengandung serat (sayur dan buah) akan memperlambat pengosongan lambung sehingga masa absorbsi lebih lama/rasa lapar lebih lambat.
Sumber protein dan lemak (ikan, daging, tempe, tahu, produk susu—selain susu kental manis) serta vitamin dan mineral juga mesti tersedia dalam sahur. Hanya mengonsumsi makanan dengan kadar karbohidrat sangat tinggi, apalagi dalam bentuk yang sederhana seperti makanan/minuman yang manis dengan indeks glikemik tinggi (cepat diubah menjadi glukosa), sebaiknya dihindari karena dapat mengakibatkan peningkatan insulin yang tinggi secara tiba-tiba. Ini akan menyebabkan glukosa darah juga lebih cepat turun dan cepat merasa lapar. Selain itu, makanan seperti sayur kol, kubis, telur, singkong, minuman bersoda, termasuk gorengan dan makanan berlemak atau pedas juga sebaiknya dikurangi karena dapat menghasilkan banyak gas dan menyulitkan pencernaan.

Setelah mengonsumsi makanan di waktu sahur, kadar glukosa, lemak, dan asam amino dalam darah akan meningkat. Kondisi ini direspons oleh otak dengan mengirim sinyal ke sel beta-pulau langerhans pankreas untuk memproduksi hormon insulin (hormon anabolik) dan menghambat pembentukan hormon glukagon. Insulin kemudian dibawa aliran darah ke sel/organ target (terutama otot dan hati) yang memiliki reseptor terhadap insulin.
Interaksi insulin dan reseptornya mengakibatkan glukosa darah dapat masuk ke dalam sel melalui transpor glukosa (GLUT) sehingga glukosa dalam darah dari proses absorbsi terangkut dan dapat dimanfaatkan oleh sel. Glukosa selanjutnya dioksidasi menjadi energi dan disimpan dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi, terutama di sel-sel otot (digunakan oleh otot saja) dan hati (cadangan glukosa untuk semua organ) melalui proses glikogenesis. Keadaan ini terjadi sampai pagi hari menjelang siang.
Fase berikutnya, fasting state, adalah masa setelah penyerapan seluruh makanan dalam saluran cerna hingga masuk waktu berbuka puasa. Di Indonesia, dengan mengikuti anjuran cerdas Nabi untuk mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka. Kita sebenarnya hanya menjalani masa ini (puasa) selama sekitar 8-10 jam sehingga tidak akan mengganggu aktivitas penting dan tentunya tidak memberatkan tubuh.

Selama fase ini, terjadi proses katabolisme, unsur-unsur zat makanan dirombak melalui proses oksidasi untuk menghasilkan energi. Energi yang dibutuhkan oleh tubuh dipasok dari cadangan makanan (glikogen dan triasil gliserol) karena tidak ada lagi makanan yang diabsorbsi usus.
Rasa lapar dan mengantuk yang terjadi menjelang siang sebenarnya disebabkan oleh rendahnya kadar glukosa darah akibat berakhirnya fase absorbsi. Akan tetapi, kondisi ini tidak berlangsung lama karena rasa lapar akan direspons oleh otak yang memang mengandalkan pasokan energi dari glukosa. Otak mengirimkan sinyal ke pankreas untuk memproduksi hormon glukagon dan menghentikan pelepasan insulin sehingga memacu perombakan makromolekul.
Selama fase ini, hati berperan penting memasok kebutuhan glukosa seluruh tubuh, terutama sel yang mengandalkan kebutuhan energinya dari bahan bakar glukosa. Pasokan glukosa tersebut tetap dapat memenuhi kebutuhan sampai waktu berbuka dengan memprioritaskan otak/saraf dan sel darah merah (eritrosit) .
Proses lipolisis yang terjadi di hati tidak hanya bermanfaat menyediakan energi dalam jumlah besar, tetapi juga berefek pada detoksikasi dengan ikut mendegradasi zat beracun yang terlarut dalam lemak.

Beberapa penelitian terkait dengan puasa melaporkan terjadinya peningkatan aktivitas makrofag, leukosit, limfosit, neutrofil, monosit, sel natural killer, dan peningkatan kadar antibodi yang berperan dalam imunitas baik dalam melawan mikroorganisme penyebab penyakit (virus dan bakteri) maupun melawan sel kanker.
Selain itu, pengamatan fraksi lipid pada orang yang berpuasa menunjukkan kecenderungan penurunan kadar kolesterol LDL (low density lipoprotein, kolesterol jahat penyebab aterosklerosis) dan peningkatan kadar kolesterol HDL (high density lipoprotein) yang berperan mengangkut lemak dari jaringan perifer ke hati untuk dimetabolisme.
Pada fase ini juga, penggunaan protein sebagai bahan bakar energi diminimalisasi karena diprioritaskan untuk menjalankan fungsi biologisnya. Pada saat kelaparan, protein merupakan bahan bakar terakhir yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi melalui proses proteolisis yang berakibat massa otot berkurang (pengurusan).
Saat berbuka puasa, kebutuhan tubuh akan energi dan air disuplai kembali sebelum tubuh merasa berat dan mengalami gangguan. Kurma atau makanan/minuman manis (gula sederhana) akan cepat memulihkan kadar glukosa darah yang sangat dibutuhkan dan mudah/langsung dimetabolisme oleh otak.
Konsumsi yang manis-manis secara berlebihan dengan indeks glikemik tinggi dapat menyebabkan perubahan kadar glukosa darah dan insulin. Hal itu dapat menyebabkan penimbunan lemak (beberapa orang justru bertambah berat badannya setelah puasa). Makanan yang mesti dikonsumsi di malam hari tetap seperti biasa saja, yang penting zat gizinya lengkap.


Pikiran Rakyat, 30 September 2010

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Page Rank

Copyright © 2011 Green Ilmu | Splashy Free Blogger Templates with Background Images, Trucks